Sejarah Sosial dan Ekonomi Jepang

Ekonomi dan sosial

Pada jaman ke-Shogun-an Tokugawa, Jepang berada dalam kekuasaan yang relatif aman, meskipun kekuasaan ditangan pemerintah militer sepenuhnya, namun rakyat sangat patuh terhadap segala kebijakan Shogun. Dalam pengelolaan tanah dan hasil pertanian, seluruhnya diserahkan kepada para tuan tanah yang disebut daimyo, di mana seperempat dari hasil pertanian langsung diurus Shogun. Baik shogun maupun daimyo dalam biaya operasionalnya dibebankan dari pajan petani.

Antara tahun 1600-1720, penduduk Jepang semakin meningkat sekitar 0.77% dalam laju pertumbuhannya, sehingga itu berarti hasil pertanian pun harus meningkat untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri yang akhirnya berakibat pula terhadap perluasan tanah garapan. Hasil pertanian tradisional yang didayagunakan antara lain beras, gandum, kacang kedele, sayuran dan teh, atau ada juga beberapa di antaranya penanaman daun murbei untuk kebutuhan makanan ulat sutra yang pada periode Edo pertanian kapas pun terus diproduksi.

Era ekonomi Jepang medern dimulai sejak jaman Meiji tahun 1868. Pasar nasional garam, kapas dan produksi tekstil semakin meningkat, hingga antara 20%-25% petani mulai memiliki pekerjaan dan keahlian ganda, seperti menjadi tukang, pembuat kerajinan dan lain-lain. Pertumbuhan pabrik-pabrik industri kecil mulai menunjukkan peningkatan, sehingga para wanita mulai ikut andil dalam perkembangan perekonomian negara. Mereka banyak yang bekerja di pabrik pemintalan dan penenunan, rumah makan, toko obat dan lain-lain.

Dengan semakin meningkatnya produktivitas masyarkat maka pemerintah mulai membuka hubungan dagang dengan luar negeri secara intensif walau masih dama cakupan terbatas. Sebelumnya selama 250 tahun Jepang di bawah kekuasaan Shogun tidak melakukan hubungan dagang dengan semua negara, kecuali dengan Cina, Korea, Belanda, dan Portugis. Hubungan dagang yang sudah terjalin paling lama adalah dengan Cina yang pada Jaman Muromachi kebudayaan Cina sangat berpengaruh terhadap budaya Jepang. Sedangkan hubungan dengan Belanda dan Portugis, tiada lain karena Jepang tertarik dengan ilmu sistem navigasi kelautan yang dimiliki kedua negara tersebut. Barulah politik isolasi itu dapat didobrak oleh Komondor Perry dalam tahun 1854.

Perkembangan sosial ekonomi sudah mulai merangkak secara nasional sejak diberlakukannya komitmen konstitusi Meiji 1868. Setelah runtuhnya kekuasaan feodalisme yang cepat, komersialisme yang melanggar batas, dan Jepang mulai terbuak bagi pasar dunia, maka orde ekonomi lama yang didirikan atas kebijakan isolasi tidak dapat dipertahankan lagi. Beberapa kegiatan usaha menurun dengan tibanya barang-barang impor yang lebih murah dan terjadi kenaikkan harga yang tinggi dari komoditi ekspor seperti sutra mentah, teh hijau, sedangkan impor tekstil katun yang baik dan murah mengakibatkan menurunnya produksi barang-barang domestik tersebut.

Dengan berbagai usaha Jepang untuk meningkatkan perekonomiannya, barulah sejak tahun 1920 tanda-tanda evolusi ekonomi di Jepang mulai terlihat di dunia internasional terutama setelah peran sertanya dalam perdagangan luar negeri. Meskipun perkembangan tersebut dengan melalui proses yang bertahap, namun dibanding negara Inggris Raya, Perancis, dan Amerika, pertumbuhan ekonomi Jepang lebih cepat, drastis dan tanpa terduga oleh dunia maju lainnya.

Berbagai usaha yang dilakukan pemerintah untuk memajukan perekonomian negara antara lain, pada tahun-tahun pertama program pemerintahan Meiji diadakan reformasi tanah, yang tadinya di gadai oleh partikelir, sejak itu dialihkan kepada pemerintah, selain itu pajak tanah diambil sepenuhnya oleh pemerintah, pencanagan mata uang seragam seluruh Jepang, dukungan pemerintah terhadap pabrik-pabrik modern sekaligus membantu memperlancar dalam hal kerja sama dengan pengusaha luar negeri, dikirimnya beberapa orang untuk dijadikan tenaga ahli baik tehnik industri, tekstil dan tehnologi lainnya. Dan pada awal tahun 1878, bangsa Jepang mulai menciptakan tehnologi industri berat seperti angkatan laut, perkeretaapian, dan penambangan batu bara.

Sejak tahun 1880, pihak pemerintah sendiri mulai mencanangkan gaya menabung dalam bentuk investasi pada barang-barang yang bisa diimpor, selain itu mendirikan model-model perusahaan modern bagi contoh pengusaha-pengusaha nasional. Hingga pada akhirnya para pengusaha nasional pun berperan serta dalam investasi barang-barang yang bisa di impor, dan ini melahirkan penghematan bagi kondisi perekonomian negara.

Pertumbuhan perekonomian Jepang tidak selalu berjalan mulus, karena terjadi depresi besar-besaran di seluruh dunia pada tahun 1930-an, maka untuk mempertahankan perekonomiannya Jepang beralih ke ekonomi tradisional, yaitu memberdayakan hasil-hasil pertanian dalam negeri seperti beras dan kapas. Pengelolaan hasil pertanian tradisional tidak mampu mengangkat perekonomian Jepang secara keseluruhan, sehingga para pengusaha Jepang berusaha mengembangkan usahanya ke bidang industri berat dalam negeri dan usaha-usaha ekspor impor dengan negara luar seperti Cina dan Belanda pada saat itu. Perdagangan hasil industri dan pertanian dalam negeri untuk diekspor ke luar negeri mulai menunjukkan hasil, hingga pada awal tahun 1936-an Jepang secara berangsur dapat memulihkan perekonomiannya. Namun demikian, dalam tahun 1937 pemerintah tidak dapat mengurangi rencana perluasan persenjataan militer dan dalam tahun berikutnya anggaran nasional meningkat kurang lebih 40%. Pembengkakan pengeluaran militer dan perencanaan sasaran ekspansi kapasitas produksi ini jatuh bersamaan dengan kenaikan impor Jepang yang tajam sehingga terjadi defisit perdagangan yang luar biasa.

Dalam tahun 1939, harga pasar naik tajam dan situasi semakin memburuk, akibatnya semua harga dan upah dikembalikan kepada ketentuan pemerintah. Konsumsi untuk rakyat sipil cendrung dibatasi secara drastis dengan pengorbanan rakyat luas akibatnya pasar gelap tumbuh berkembang karena haraga-harga dikendalikan pemerintah pada umumnya jauh di bawah keseimbangan permintaan dan penawaran. Dan untuk menghadapi permasalahan ini pemerintah membentuk polisi ekonomi negara.

Bagaimana pun persediaan alam tidaklah cukup untuk dieksploitasi terus menerus, ditambah lagi permintaan pasar yang semakin meningkat menjadikan Jepang harus berpikir lagi. Hingga akhirnya sifat feodalisme masa lalu lahir kembali, yang bedanya kini tidak diterapkan di dalam negeri melainkan ke luar negeri, dengan dorongan ingin memenuhi kebutuhan akan rempah-rempah bagi keperluan internasional. Jepang mulai kembali melakukan invasi ke negara-negara lain seperti Vietnam, Malaysia, termasuk Indonesia.

Pada tahun 1941, Amerika melakukan embargo bahan bakar bensin terhadap Jepang, hingga memaksa Jepang untuk bergabung dengan Jerman dan Itali dalam melawan Amerika dan Inggris. Bahkan dalam enam bulan pertama perang Pasifik, Jepang telah mampu menduduki Birma, sampai kepulauan Solomon dari situlah Jepang mendapatkan bahan baku yang dibutuhkan. Namun dalam tahun 1944 Sekutu berhasil memblokade jalur ke Asia Tenggara yang mengakibatkan Jepang semakin terpuruk, apalagi akibat setelah dijatuhkannya bom atom di Hiroshima tanggal 6 Agustus 1945 dan Nagasaki tiga hari berikutnya.

Perang telah menimbulkan luka, kelaparan, dan penderitaan yang sangat mendalam, kerugian seluruh aset negara selama sepuluh tahun terakhir belum dapat dipulihkan secara total. Namun demikian, tekanan yang dihadapi sewaktu perang atas industri berat dan kimia serta sikap tak acuh terhadap industri ringan, dapat dikatakan ternyata Jepang memiliki kapasitas untuk mengembangkan atau mengalokasikan industri berat dalam masa pascaperang. Kemudian pengetahuan dan kemampuan masyarakat yang pernah diperoleh tentang pembuatan senapan mesin, dialihfungsikan menjadi pembuatan manufaktur mesin jahit, keahlian membuat barang-barang optik keperluan militer beralih menjadi manufaktur kamera dan lain-lain. Dengan demikian terbentuklah hubungan antar perusahaan kecil dan perusahaan besar yang tumbuh subur dan menjadi ciri khas asosiasi pekerja Jepang pada sejarah ekonomi selanjutnya. Selain itu, hubungan manajemen perburuhan pascaperang dengan basis serikat buruh di masing-masing perusahaan telah dibentuk melalui Asosiasi Industri Patriotik.

1 komentar:

Digeus Registry Cleaner

Digeus Registry Cleaner speeds up, removes the junk, fixes Windows errors. You just need a few mouse clicks and your computer will become as good as a brand new one. This software is recommended to whom loves own computer keep clean.